Pages

Showing posts with label Matra News. Show all posts
Showing posts with label Matra News. Show all posts

MoU Mutasi Plat Kendaraan di Mamuju Utara Segera Diterapkan

Guna memaksimalkan pendapatan asli daerah (PAD) di Kabupaten Mamuju Utara (Matra) di sektor retribusi perpajakan, Dinas Pendapatan Daerah (Dipenda) Propinsi Sulawesi Barat (Sulbar) bekerjasama dengan pemerintah kabupaten (Pemkab) Matra menggelar sosialisasi Peraturan Daerah (Perda)


sekaligus penandatanganan Memorandum Of Understanding (MOU) percepatan proses mutasi kendaraan bermotor Non DC ke DC, di ruang pola kantor Bupati Matra, Senin 28 Maret lalu.

Sosialisasi perda no14/2010 tentang pajak daerah dan penandatanganan MOU tersebut, Bupati Matra H Agus Ambo Djiwa mengharapkan peningkatan PAD Matra melalui retribusi pajak kendaraan dapat lebih maksimal. "Sosialisasi perda tersebut dan kerjasama percepatan proses mutasi plat kendaraan bermotor dari non DC ke DC akan dapat memacu peningkatan pendapatan retribusi bagi daerah kita," harapnya.

Ia mengatakan, penarikan retribusi pajak kendaraan merupakan pendapatan daerah yang sangat potensial untuk pembangunan Matra ke depan. "Masih banyak kendaraan di Matra yang menggunakan plat non Dc, sehingga pendapatan pajak bagi kendaraan masih sangat sedikit, padahal pendapatan retribusi pada kendaraan di daerah ini memberikan potensi pendapatan yang cukup besar bagi pembangunan daerah kita," katanya.

Dikatakan Agus, agar hal tersebut dapat di implementasikan dihimbau agar stakeholder bekerjasama dengan para kepala desa (Kades), baik dalam sosialisasi perda maupun melakukan pendataan, kades merupakan pemerintah paling terdepan. "Untuk mendukung kegiatan ini, pemerintah berinisiatif memberikan subsidi silang dalam proses mutasi bagi kendaraan dari non DC ke DC agar lebih memotivasi pelaksanaan peningkatan pendapatan daerah pada kendaraan bermotor di Matra," janjinya.

Hal sama disampaikan Kepala Dipenda Propinsi Sulbar, H Mujirin M Yamin. Menurut Mujirin penandatanganan kerjasama retribusi kendaraan antara Pemprov Sulbar dengan Pemkab Matra melalui pemutasian kendaraan bermotor dari non DC ke DC akan dapat memotivasi pembangunan bagi Matra ke depan.

"Berdasarkan data Dispenda propinsi, banyaknya pemilik kendaraan yang belum membayar pajak, karena kendaraan tersebut masih mempergunakan plat daerah dari luar Sulbar," bebernya.

Mujirin bahkan optimis akan adanya peningkatan pajak bagi daerah ini di lihat jumlah kendaraan yang beredar di Matra. Andaikan setiap kendaraan yang ada di Matra mempergunakan plat DC maka pendapatan retribusi pajak kendaraan yang masuk ke daerah ini bisa mencapai Rp9 miliar per tahunnya.

Termasuk akan diberlakukannya pajak bagi kendaraan dinas sebesar 0,5 persen. "Hasil survei kendaraan yang tercatat di Samsat mencapai 10.188 kendaraan terkena pajak, namun hal itu disebutkan data ini lebih kecil dari jumlah kendaraan yang berada di Matra," kata Mujirin.

Sementara itu, Kepala Pengelola Pendapatan Keuangan dan Aset Daerak (PPKAD) Kabupaten Matra, H Wahid, membenarkan masih banyaknya kendaraan yang ada di Matra belum mempergunakan plat DC.

Dia juga menyampaikan, pembagian penarikan retribusi kendaraan sesuai MOU pada pelaksanaannya, Propinsi Sulbar akan mendapatkan sebesar 30 persen dan Kabupaten Matra mendapatkan 70 persen dari hasil jumlah pajak kendaraan di Matra. Acara sosialisasi Perda no14/ 2010 dan penandatanganan MoU percepatan proses mutasi kendaraan bermotor dari non DC ke DC di buka Bupati Matra H Agus ADJ.

Usai penandatanganan antara Dipenda Propinsi Sulbar dengan Kadis Perhubungan dan infokom Kabupaten Matra, di lanjutkan sosialisasi perda tersebut. Hadir dalam acara tersebut, para SKPD lingkup pemerintah Kabupaten Matra, para Camat dan Kades dan Lurah se Kabupaten Matra

Read more

Pertambangan Mamuju Utara Target Capain PAD Rp1,2 M

Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Mamuju Utara (Matra) saat ini memaksimalkan penarikan retribusi di bidang pertambangan untuk capaian pendapatan asli daerah (PAD).

Pendapatan melalui pertambangan bebatuan akan mencapai target sebesar Rp1,2 miliar pada tahun 2011 ini dengan indikator memperbaiki data base di bidang pertambangan yang di mulai dari perbatasan Benggaulu sampai perbatasan Sarjo, plus beberapa persahaan yang ada di Matra.

Kabid Pertambangan Dinas ESDM Matra, Syahril yang dihubungi di ruang kerjanya, belum lama ini mengungkapkan, optimis penarikan retribusi bisa mencapai target pada tahun ini.

" Kami targetkan PAD di Dinas ESDM bisa mencapai Rp1,2 miliar tahun ini, bila retribusi tambang batuan di maksimalkan," jelasnya. Syahril menjelaskan, peluang memaksimalkan retribusi di bidang pertambangan, beberapa perusahaan yang ada di Matra selama ini belum dilakukan penarikan retribusi di bidang pertambangan terkait penggunaan air bawah tanah.

"Kemudian saat ini juga, sungai Lariang yang memiliki pasir kualitas tinggi dengan analisis 0,1 persen tanahnya kini dilirik perusahaan dari Kalimantan yang bekerjasama dengan perusahaan lokal,' katanya.

Menurutnya, Sungai Larang memiliki 3 potensi bagi daerah ini di antaranya adalah pengerukan Sungai Lariang, PAD dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat. "Semuanya ini jika di lakukan dengan maksimal akan memberikan pendapatan yang lebih besar kepada daerah. Inilah yang sementara kita akan lakukan untuk menggenjot pendapatan yang masuk ke daerah," janjinya.

Di samping itu, kata Syahril, untuk menggenjot PAD di bidang pertambangan, juga harus di lakukan penambahan penarikan retribusi yang selama ini belum di lakukan dan melakukan studi banding tentang penarikan retribusi.

Read more

PNPM MP Matra Mulai Terlaksana

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) se Kabupaten Mamuju Utara (Matra) mulait terlaksana.

Buktinya telah digelar pelatihan di aula Muntazam, Pasangkayu yang berlangsung selama 3 hari. Pelatihan program PNPM MP ini untuk memasuki kegiatan tahun anggaran 2011. Peserta terdiri atas kader pemberdayaan masyarakat desa (KPMD) dan pendamping lokal (PL) yang juga di sebut fasilitator desa (FD). KPMD dan PL PNPM MP se-Kabupaten Matra yang turut dalam pelathan tersebut mencapai sekira 70 orang di semua pengurus PNPM MP desa.

Sementara itu, pembicara dalam pelatihan tersebut terdiri administratur fasilitator Propinsi Sulbar, Murni, fasilitator tehnik kabupaten, Astrid, konsultan kecamatan, fasilitator kabupaten (Faskab), yakni fasilitator keuangan, konsultan tehnik dan pemberdayaan.

Adapun pembahasan dalam pelatihan tersebut, menurut Awaluddin, teknik dasar fasilitasi, panduan dan kaderisasi untuk integrasi dan pengkajian keadaan desa dan village visioning atau menggagas masa depan desa (MMDD).

Serta tugas pokok dan fungsi (Tufoksi) KPMD dan PL. Awalauddin yang sebagai konsultan pemberdayaan Kecamatan Bambalamotu dalam PNPM MP saat di temui usai pelatihan mengatakan, pelatihan terhadap KPMD dan PL di tingkat desa agar program PNPM MP tahun 2011 dapat di wujudkan dan di implementasikan di lapangan dengan mudah, sesuai tufoksinya masing-masing.

Read more

Pasha Ungu PULKAM ke Pasangkayu

Vokalis band Ungu Sigit Purnomo Said atau lebih dikenal Pasha Ungu, Rabu 13 April malam lalu berkunjung ke kampung halaman kedua orang tuanya di Lariang Pasangkayu Mamuju Utara Sulbar.

Selain didampingi kedua orang tua yakni Syamsuddin Said dan Andi Bombeng, Pasha juga memboyong istrinya Adhelia dan salah seorang putri dari istri pertama.

Kehadiran Pasha di Pasangkayu dalam rangka silahturahmi dengan keluarga besar. Pasha didampingi kerabat tiba di Pasangkayu Rabu 13 April dan langsung menuju Rumah Jabatan (rujab) Bupati Matra.Silahturahmi Pasha di Matra ini ini sekaligus merupakan bulan madu bagi Pasha dengan istri bersama keluarga. Setibanya di Pasangkayu, Pasha disambut kerabat dan keluarga yang rata-rata pejabat Pemkab Matra seperti Bupati H Agus Ambo Djiwa, Ketua DPRD dan Wakil Ketua DPRD H Yaumil RM dan Uksin Djamaluddin.

Silaturahmi diramu dalam sebuah acara bertajuk 'semalam bersama Pasha'. Kegiatan dipusatkan di halaman belakang rujab Bupati Matra.Hadir Wakil Bupati HM Saal, Wakapolres Kompol Addas, Wakil Ketua DPRD H Lukman Said, Sekkab H Nur Alam Tahir, para Kepala SKPD dan kerabat dekat Pasha di Matra, juga ratusan masyarakat yang hadir menyaksikan langsung Pasha melantunkan lagu bertemakan cinta dan religi.

Bupati Matra H Agus Ambo Djiwa menyampaikan terima kasih atas kunjungan Pasha ke Matra, karena tidak melupakan kampung halaman."Malam ini hadir ditengah-tengah kita vokalis Band Ungu yang juga adalah putra Kabupaten Matra yang menyempatkan diri hadir bersama keluarga dalam rangka untuk bersilaturahmi, dan acara yang dikemas keluarga malam ini yakni 'semalam bersama Pasha'," kata Agus.

Sementara orang tua Pasha, H Syamsuddin Said didampingi istri Andi Bumbeng mengatakan, Lariang atau Pasangkayu adalah tanah kelahiran mereka. Kegiatan malam ini berkumpul untuk lebih mempererat hubungan silaturahmi."Kunjungan Pasha ini adalah kali ketiganya saya dampingi, yang sebelumnya di Malaysia dan Singapura, dan ini kunjungan yang sangat istimewa bagi saya mendampingi Pasha karena berkunjung di kampung halaman yang jauh dari keramaian dan sekaligus Pasha akan melakukan bulan madu,"

Read more

MAMUJU UTARA PENGHASIL SAWIT TERBESAR DI SULBAR

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulbar, Mukhtar Belo, di Mamuju, Minggu, mengatakan, kabupaten Matra yang juga salah satu daerah hasil pemekaran Kabupaten Mamuju, kini menempatkan sebagai penghasil komoditas sawit terbesar di Sulbar.

“Pada tahun 2008 lalu, Matra menghasilkan produksi sawit sebanyak 109.570 ton dengan luas areal pengelolaan kelapa sawit seluas 29.982 Ha,” kata Muktar.

Menurut dia, kelapa sawit yang menjadi salah satu komoditas unggulan di kota ujung utara Sulbar tersebut yang kini telah berhasil memberikan kontribusi positif sehingga berdampak pada terbukanya akses lapangan kerja alternatif bagi masyarakat dalam menjalankan roda perekonomian di wilayah itu.

“Perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat yang ada di Matra untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka,” ujarnya.

Muktar menuturkan, selain Mamuju Utara, penghasil sawit nomor dua di Sulbar adalah kabupaten Mamuju yang juga telah memberikan kontribusi positif bagi pembangunan di daerah ini.

“Di Mamuju sendiri, perkebunan kelapa sawit juga menjadi salah satu komoditi primadona bagi petani kita, selain tanaman Kakao,” urainya.

Ia mengatakan, komoditi perkebunan kelapa sawit di Mamuju, terdapat di beberapa kecamatan diantaranya kecamatan Tommo, Tobadak, Budong-Budong, Topoyo dan Karossa.

“Saat ini para petani kita di beberapa kecamatan yang saya maksud sedang menggalakkan peningkatan produksi kelapa sawit, walaupun banyak diantara mereka juga mengembangkan tanaman Kakao,” timpal Muktar.sources:http://spksinstiper.wordpress.com

Read more

Kondisi Sungai Lariang Terkini (27 Januari 2011)

Kasian Juga melihat kondisi sungai lariang saat ini...terjadi penggerusan disisi nya,mungkin pengaruh pendangkalan sungai akibat banyak tanah longsor dari hulunya....kasihan Lariangku :



Read more

Info Foto: Geliat Menjelang Pilgub Sulawesi Barat Di Mamuju Utara

yang aku hanya sempat ambil foto di 2 titik aja...untuk calon lain yang fotonya gak ada....nanti aku cari lagi yah? (itung2 promosi gratis lewat blog......kalo aku netral kok (belum ada pilihan)


Read more

KABUPATEN MAMUJU UTARA

Kabupaten Mamuju Utara adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Barat dengan ibukota Pasangkayu. Kabupaten Mamuju Utara merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Mamuju terletak 719 Km dari Makassar, ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten Mamuju Utara merupakan gabungan dari Kecamatan Pasangkayu bersama Kecamatan Sarudu, Baras, dan Bambalamotu yang sebelumnya pernah menjadi bagian dari Kabupaten Mamuju sebelum dimekarkan pada tahun 2001.

Kabupaten ini berpenduduk 100.227 jiwa dimana 53.153 adalah laki-laki dan sisanya 47.074 jiwa adalah wanita. Populasi tersebut tersebar di 4 kecamatan dengan total luas wilayah 304.375 Km2. Pendidikan penduduk setempat relatif rendah. Hal ini tercermin dari tingginya komposisi penduduk yang berpendidikan dasar atau tidak lulus pendidikan dasar sebesar 81 persen. Mereka yang yang berpendidikan menengah dan atas hanya 17,9 sedangkan sisanya yaitu 1,2 persen berpendidikan diploma dan sarjana.

Struktur pendidikan setempat mayoritas hanya sekolah dasar, memaksa mereka hanya memanfaatkan lahan tanah dan air sebagai mata pencaharian yaitu bertani. Kontribusi pertanian pada pembentukan PDRB atas dasar harga konstan mencapai 49,88 persen dengan nilai ekonomi 212 milyar rupiah lebih.

Kabupaten Mamuju Utara pada dasarnya penghasil jagung tertinggi. Output jagung dari daerah ini mencapai 11.565 ton pada tahun 2006. Kontribusi jagung terbesar berasal dari Kecamatan Pasangkayu dan Bambalamotu. Dua daerah ini terkenal dengan kesuburannya maka tak heran jika hampir semua padi dan palawija banyak berasal dari daerah ini seperti ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau.

Untuk produksi perkebunan seperti kelapa dalam, kelapa hibrida, kelapa sawit, kakao, dan cengkeh tersebar di empat kecamatan. Kelapa dalam di Kecamatan Sarudu dan Bambalamotu, kelapa hibrida terdapat di Bambalamotu dan Pasangkayu, kepala sawit di Baras dan Sarudu, Kakao terdapat di Bambalamotu dan Pasangkayu dan cengkeh terdapat di Pasangkayu dan Bombalamotu.

Sapi adalah ternak yang paling disukai oleh masyarakat Mamuju Utara. Populasi Sapi mencapai 11.073 ekor dan banyak terdapat di Pasangkayu dan Bambalamotu. Selain itu juga terdapat Kerbau dan Kuda meskipun jumlahnya tidak sebanyak Sapi. Pada dua kecamatan ini juga terdapat banyak Kambing. Babi banyak terdapat di daerah Baras sedangkan Ayam Potong dan Buras banyak terdapat di Pasangkayu sedangkan Itik di Sarudu.

Pasangkayu yang relatif maju jika dibandingkan kecamatan lainnya menjadi pusat industri pengolahan. Ada 6 perusahaan besar 3 diantaranya terletak di sana. Untuk perusahaan skala menengah, kecil, dan mikro juga banyak terdapat di sana. Meskipun demikian, kecamatan lain juga merupakan lokasi usaha yang relatif strategis hal ini terlihat dari sebaran usaha besar, menengah, kecil, dan mikro yang terdapat di empat kecamatan. Karena itu, sektor industri juga menjadi salah satu kegiatan ekonomi penting di Mamuju Utara dengan kontribusi 34,22 persen pada pembentukan PDRB atas dasar harga konstan (2000) dengan nilai ekonomi 145 milyar rupiah lebih.

Untuk jasa-jasa lain yang juga memiliki kontribusi besar pada pembentukan PDRB 7,41 persen banyak didorong oleh besarnya nilai ekonomi jasa-jasa pemerintah dan bukan dari jasa non pemerintah.

Secara keseluruhan, daerah ini punya potensi besar untuk pengembangan perkebunan dengan komoditi utama kelapa sawit, kelapa, kelapa hibrida, kopi arabika, kopi robusta, jambu mete, cengkeh, kakao, dan lada.

Untuk kegiatan pertanian, hasil utama tanaman pangan yang harus dikembangkan ke depan adalah: padi dan palawija. Kelapa sawit merupakan komoditi unggulan daerah dan terdapat 2 pabrik pengolahan kelapa sawit, dengan keberadaan pabrik ini memungkinkan menyerap tenaga kerja dari penduduk setempat dan meningkatkan hasil produksi kelapa sawit. Dari hasil pertanian dan perkebunan itu akan berdampak besar terhadap perdagangan. Perdagangan menjadi tumpuan utama bagi mata pencaharian penduduk setelah pertanian.

Di sektor pertambangan daerah ini juga memiliki hasil tambang berupa minyak bumi dikelola PT. Exxon Mobile. Pembangunan sub sektor peternakan diarahkan untuk meningkatkan populasi dan produksi ternak guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat akan makanan bergizi, disamping untuk meningkatkan pendapatan peternak. Ke depan, daerah ini harus fokus pada pembangunan ekonomi yang berbasis pertanian dan pertambangan yang akan menambah keuangan daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
sources:http://www.cps-sss.org

Read more

Eksploitasi Migas di Pasangkayu


Perusahaan minyak dan gas PT Marathon International Petroleum Indonesia Limited akan melakukan eksploitasi Migas di Blok Pasangkayu, Kecamatan pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) Arsyad Hafid di Mamuju, Rabu, mengatakan, perusahaan asing yang pernah mengelola Migas di negara Afrika, Lybia, Norwegia dan Irlandia itu telah menyampaikan kepada Pemerintah Provinsi Sulbar bahwa perusahaan asing tersebut akan melakukan eksploitasi Migas di Sulbar.

Ia mengatakan, perusahaan asing yang sebelumnya telah melakukan survey seismic Migas di Sulbar pada tahun 2007 telah melakukan sosialisasi kepada pemerintah dan masyarakat di Sulbar mengenai rencana perusahaan migas tersebut untuk melakukan eksploitasi migas di Sulbar pada tahun 2010 ini.

Menurut dia, PT Marathon akan melakukan eksploitasi migas di blok pasangkayu, Kecamatan Pasangkayu, yang terdapat diperairan lepas pantai Kabupaten Matra pada tanggal 4 Agustus tahun 2010 ini.

Oleh karena itu ia meminta kepada PT Marathon yang akan melakukan eksploitasi migas di Sulbar, dapat bekerja dengan baik serta selalu berkoordinasi dengan pemerintah mengenai aktivitasnya dengan tidak merugikan masyarakat daerah ini.

Ia juga meminta PT Marathon yang akan segera melakukan mobilisasi peralatan beratnya untuk melakukan eskploitasi Migas di Sulbar agar tidak merusak infrasturuktur daerah ini seperti jalan dan jembatan khususnya jalur Trans Sulawesi di Kabupaten Matra karena sangat vital digunakan masyarakat menjalankan roda ekonominya.

“Jangan rusak jalan dan jembatan ketika akan melakukan mobilisasi kendaraan berat ke Sulbar karena infrastruktur jalan dan jembatan di Sulbar dibangun dengan menggunakan uang masyarakat yang tidak sedikit, kita tidak ingin PT Maraton yang berivestasi di wilayah Sulbar merusak infrastruktur daerah yang diperuntukkan bagi sarana penggerak ekonomi masyarakat,” katanya.

Ia juga meminta agar keberadaan PT Marathon di Sulbar tidak meresahkan masyarakat sehingga mereka khawatir dengan aktivitasnya mengganggu kehidupan mereka karena lingkungan dan infrastruktur daerah menjadi rusak.

“PT Marathon juga harus memberdayakan masyarakat daerah dalam melakukan aktivitasnya agar masyarakat tidak selalu merasa dirugikan, selain itu harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah karena bagaimanapun daerah ini tidak ingin dirugikan dengan aktivitas PT Marathon yang mengelola Migas diperairan Sulawesi, “katanya.sources:rilisindonesia.com

Read more

Pasangkayu Hijau


Pasangkayu adalah nama ibukota Kab.Mamuju Utara, kabupaten termuda kedua setelah mamasa di Sulawesi Barat(hasil pemekaran sulawesi Selatan)
posisinya terletak di ujung utara, yah kira2 60 km dari dperbatasan sulawesi tengah.
Pasangkayu saat ini mulai berkembang, ditandai dengan banyaknya investor yang datang untuk membangun kabupaten ini, ada perusahaan minyak Conoco, perusahaan sawit (PT.Unggul dan Astra),Pertamina,Hotel-Hotel dsb yang semuanya itu untuk memakmurkan Mamuju Utara.
Saat ini Mamuju Utara dipimpin oleh Bapak Agus Ambojiwa yang merupakan tokoh lokal Mamuju Utara,, semoga dengan kepeminpinannya dapat meningkatkan perekonomian Mamuju Utara sehingga masyarakat mamuju utara dapat merasakan kesejahteraan yang merata.
Kenapa tidak,banyak alasan yang bisa diungkapkan :
1. Banyaknya investor yang masuk sehingga peluang untuk perputaran roda ekonomi semakin besar.
2. Bapak Agus merupakan Tokoh Lokal yang mumpuni dalam mengelola pemerintahan yang bersih KKN (hehehehe.....Hidup Pak Bupati)jujur lho, walaupun istri saya gak lulus tes CPNS 2010.
3.Sarana dan Prasarana Jalan sekarang sudah mantap(aspal semua).
4.BTS sdah mulai ada dimana-mana,ada Telkomsel,Indosat,XL ada gak yah?? (cuma pak Agus....di PT.Unggul WTL belum dapat signal...tolong dooong).
5.Tingkat keamanan yang sangat baik. (cerita orang dulu, katanya Matra itu sereeeem)

Penghasilan utama masyarakat Mamuju Utara adalah Bertani, ada yang bertani Sawit, Kakao, Jagung,Padi. Ada juga Berdagang, Nelayan,Pegawai dsb.

Di kecamatan Baras,Lariang,Tikke,Sarudu banyak kita jumpai tanaman Sawit, walaupun sebagian adalah milik perusahaan, tapi tidak sedikit tanaman sawit juga mulai ditanam oleh masyarakat dengan memanfaatkan tanahnya agar lebih produktif lagi.
Sebagai contoh PT.Unggul...luas tanamman sendiri adalah 6000 Ha, sedangkan tanaman milik petani plasma(transmigrasi) adalah 6000 Ha dan petani lokal(swadaya) adalah 12.000 Ha..jadi bisa dibayangkan 4 tahun kedepan, betapa makmurnya masyarakat di Matra yang menanam Kelapa Sawit, sebagai gambaran, petani yang memiliki 2 Ha tanaman sawit yang menghasilkan, memperoleh penghasilan Rp 3,5 jt nett sebulan setelah menjual buah sawit (FFB) di PT.Unggul.

Dah dulu ya postingan ini...nanti lanjut lagi deh..Siiip
kami tunggu commentnya, siapa tahu info lebih Gress lagi mengenai Mamuju Utara or Pasangkayu.

Read more

UFO di daerah Pasangkayu, Mamuju

Kejadiannya kira-kira tahun 2005 pukul 10 malam, di daerah Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat.Kakak saya Muhammad Yasin menyaksikan pesawat alien atau biasa disebut “Piring Terbang“, bergerak diatas ketinggian kira-kira kurang dari 100 m, setinggi pohon kelapa katanya.

Pada saat pertama kali melihat ia mengira pesawat biasa, tapi setelah diperhatikan kok aneh, tidak bersuara, bergerak sangat anggun dan memancarkan sinar terang yang melebar ke bawah, “ Terang lampunya itu seperti lampu Halogent yang ada di lapangan sepak bola, kerikil- kerikil ditanah pun sampai kelihatan seperti siang hari.

“Apa yang sampeyan rasakan pada saat itu," tanya saya mewawancarai . “Takut, seperti ada getaran aneh di perasaan, sepertinya saya merasa kedatangan tamu yang jauh dan asing, pesawat itu bergerak horizontal kemudian semakin merendah di daerah sungai Lariang, sepertinya mau mendarat,” katanya.

Esok harinya kakak saya menceritakan kejadian itu pada masyarakat sekeliling, ternyata masyarakat sekitar juga menyaksikan kejadian aneh itu. “Baru kali ini seumur- umur menyaksikan kejadian aneh seumur hidup,“ Katanya.

Lokasi saksi mata di di daerah sungai Lariang, Pasangkayu, yang masih berupa kawasan hutan dan sulit dijangkau, merupakan lokasi Transmigrasi.

Sumber:Blog Ridwan Adi Santoso

Read more

Keberagaman yang Indah

Jika pernah ke Mamuju Utara (Matra) Sulawesi Barat, anda pasti mendengar tentang daerah transmigrasi, Baras namanya, yang arti kata merurut penduduk setempat adalah ‘baru tahu rasa!’ (Baras).

Terang saja, ketika mulai masuk daerah ini, tidak ada pilihan lain untuk pandangan mata saya, selain rimbunan pepohonan kelapa sawit . Deretan tanaman yang katanya berasal dari Afrika Selatan ini jelas mengahalangi sinar matahari, sehingga membuat suasana menjadi gelap. Persisnya waktu itu saya berada di tengah belantara kelapa sawit.

Belum lagi, ratusan kilometer jalan yang membelah perkebunan gelap tersebut, sunyi, licin, tanjakan, dan berlubang. Bahkan, mobil teman rombongan saya pun jadi korban keganasannya , sempat berkali-kali harus didorong karena terjebak lubang jalanan yang licin. Kami pun Baras “baru tahu rasa!”.

Yang pasti, jalan yang dibangun atas swadaya warga transmigran tersebut, tidak ada cirri khusus yang menjadi pembeda antara rute yang satu dengan lainnya, semua tampak sama!. Maka, Jika tidak ada penunjuk jalan ke sana, saya sarankan jangan pernah mencobanya.

Kebetulan saya bersama rombongan menghadiri Hari Raya Saraswati oleh pemeluk Hindu-Dharma setempat. Yang membuat saya kagum adalah ketika saya memasuki perkampungan warga.

Dari kaca mobil yang saya tumpangi, jelas terlihat deretan perumahan warga dengan beragam bentuk budaya Nusantara. Ada yang bercirikan bangunan khas-Bali, Jawa, dan Bugis, serta Mandar, meski dominasi nuansa yang sempat saya lihat adalah Bali, namun semuanya terlihat begitu harmoni. Tidak nampak aroma arogansi mayoritas, yang ada adalah kebersamaan, kerukunan.

Bangunan Kerukunan

Yang membuat saya lebih terharu adalah ketika saya menyaksikan bangunan tempat ibadah yang saling berdekatan. Lokasi antara Pure, Gereja, dan Masjid tidak terlalu jauh, bahkan berdampingan, dan berhadapan. Seakan bangunan-bangunan tempat ibadah tersebut ingin bilang kepada saya, atau mungkin kepada anda yang berkunjung ke Baras-Matra, “bahwa mekipun kami berbeda, tapi kami sangat dekat,”.

Hal yang berbanding lurus ketika saya sampai di tempat acara perayaan Hari Raya Saraswati. Ratusan ummat Hindu-Dharma berbondong-bondong berdatangan, berdoa, dan sebagian yang lain sibuk mempersiapkan, membawa sesaji sebagai kelengkapan perayaan.

Lagi-lagi saya terharu, ketika saya melihat diantara mereka ada pemeluk agama lain, tokoh agama lain setempat datang menghadiri acara perayaan tersebut. Mereka datang untuk memberi ucapan selamat. Sungguh penghormatan yang mungkin dianggap sepele (hanya member i ucapan selamat) oleh sebagian orang, tapi tidak untuk bangunan kerukunan beragama, ditengah pluralitas bangsa.

Coba lihat akhir-akhir ini, kita menyaksikan guncangnya kerukunan beragama di Indonesia yang menjadi problem bangsa kekinian. Sebut saja, kasus Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Bekasi, yang menimbulkan luka pada bangunan kerukunan beragama di Indonesia.

Entah mengapa, sekelompok orang yang mengatasnamakan agama, suku budaya, dan identitas-identitas keduniawian lain tega menyerang, menyakiti, bahkan membunuh orang lain. Seakan, agama yang berbeda, suku budaya yang berlainan merupakan ancaman dan harus dihancurkan.

Sungguh sangat ironis, bangsa yang terkenal ramah, tiba-tiba berubah menjadi bangsa yang pemarah. Padahal kita tahu, bahwa perbedaan adalah realitas, keberagaman adalah fakta tak terbantahkan, atau bahkan itu adalah takdir Tuhan.

Ya, fakta keberagaman yang mungkin masih sering kita pertanyakan dalam diri, dalam kehidupan bermasyarakat. Ataukah mungkin kita masih mempertanyakan ulang tentang kalimat klasik Majapahit “Bhineka Tunggal Ika”, yang dijadikan para Founding Father sebagai filosofi Negara kita?

Namun, pertanyaan itu sudah terjawab tuntas di Ujung Sulawesi Barat, Baras-Matra. Seharusnya kerukunan beragama di sana dilihat dan dicontoh oleh mereka yang katanya sering mendeklarasikan diri sebagai masyarakat kota, orang modern .

Transmigran

Mengharukan bagaimana mereka yang disebut sebagai masyarakat transmigran yang kerap dianggap orang-orang kampung yang secara ekonomi dan pengetahuan sangat minim, sehingga harus keluar kampungnya untuk mencari nafkah itu justru tampil sebagai pemeran utama dalam bangunan kerukunan beragama. Mereka tentu berasal dari kampung, yang mungkin susah untuk menyerap kata “Pluralisme”. Tapi mereka telah menunjukkan.

Hidup rukun berdampingan dengan pemeluk agama lain, hidup bersama dengan budaya, suku bangsa yang berbeda, dan ditempat lokasi yang jauh dari sejarah hidup mereka. Sungguh butuh kearifan yang luar biasa, dan penyikapan terhadap perbedaan dan keberagaman yang sangat cerdas!.

Di Baras-Matra kita kembali diingatkan betapa toleransi antar sesama yang lebih menonjolkan sisi kemanusiaan, bukan sekat-sekat keduniawian, merupakan kunci utama kerukunan beragama yang akhir-khir ini menjadi sangat mahal harganya.

Mungkin pula arwah Alm. Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme akan tersenyum bangga melihat anak negeri ini hidup rukun berdampingan atas dasar kemanusiaan seperti yang terjadi di Baras-Matra. Semoga…sources:Ulya Sunani,kompasiana.com

Read more

SEJARAH HARI JADI MAMUJU

Penetapan Hari Jadi Mamuju sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan memakan waktu yang cukup panjang dan melibatkan banyak tokoh di daerah ini. Kajian sejarah dan berbagai peristiwa penting melahirkan beberapa versi mangenai waktu yang paling tepat untuk dijadikan sebagai Hari Jadi Mamuju.

Menyadari perlunya titik temu pendapat mengenai hari jadi tersebut, HIPERMAJU dan PERSUKMA bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Mamuju melaksanakan seminar, dan ditetapkan tahun 1540 sebagai Hari Jadi Mamuju. Hasil seminar inilah yang kemudian ditindaklanjuti oleh Bupati dengan menyusun Rancangan Peraturan Daerah tentang Hari Jadi Mamuju.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Mamuju hasil pemilu 1999 menerima Ranperda dan setelah melalui pembahasan termasuk dengar pendapat dengan para tokoh sejarah, budayawan dan tokoh intelektual di daerah ini, dalam sidang paripurna tanggal 9 Agustus 1999 secara resmi Ranperda tentang Hari Jadi Mamuju disahkan menjadi Peraturan Daerah Kabupaten Mamuju. Peraturan daerah ini adalah Perda Nomor 05 Tahun 1999 diundangkan pada Tanggal 10 Agustus 1999 dan dicantumkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Mamuju Tahun 1999 Nomor 14. Inti dari Perda tersebut adalah menetapkan TANGGAL 14 JULI 1540 SEBAGAI HARI JADI MAMUJU.

Dalam penjelasan Peraturan Daerah tersebut diuraikan latar belakang penetapan waktu Hari Jadi Mamuju dan kesempatan ini dikutip beberapa kalimat butir C (penjelasan peraturan) sebagai berikut :

"Apabila dilihat dari sudut yuridis formal, maka Hari Jadi Mamuju akan jatuh pada tanggal 4 Juli 1959, yaitu saat ditetapkannya Undang- Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi. Namun akal sehat akan membawa kita untuk tidak terpaku dan terperangkap dalam kelakuan formalitas yang sempit yang kelak dapat mengaburkan maksud dan tujuan menetakan Hari Jadi Mamuju itu sendiri".

Dengan demikian, Hari Jadi Mamuju akan bermakna dan bernilai moral yang amat mendalam bukan sekedar formalitas belaka tetapi dapat memberi makna simbolik tentang harkat, hakekat, citra dan jati diri untuk selanjutnya berperan sebagai wahana motivasi bagi masyarakat demi melestarikan nilai-nilai budaya dan sejarah Mamuju.

Ungkapan Mutiara hikmah nilai budaya dan tradisi masyarakat Mamuju mengatakan: "Todiari Teppo Dolu, Parallu Nikilalai Sule Wattu Ia Te'e, Laiyalai Mendiari Peppondonganna Katuoatta'ilalan Era Laittingayoaianna".

Dari kutipan diatas tergambar dasar-dasar pemikiran penetapan waktu yang diambil sebagai Hari Jadi Mamuju dan peristiwa yang menjadi patokan penetapannya adalah terbentuknya Kerajaan Mamuju dari hasil perpaduan tiga buah kerajaan Kurri-Kurri, Langgamonar dan Managallang. Selanjutnya, dasar pemikiran dan pertimbangan penetapan waktu tersebut secara terinci dari tanggal, bulan dan tahun yang diambil diungkapkan sebagai berikut :

1. Tanggal 14 (empat belas).

a. Angka 14 adalah angka kelipatan dua dari tujuh, yang oleh tradisi Masyarakat Mamuju menyebutnya Penduang Pitu.

b. Jumlah hari dalam sebulan bergerak antara 28/29 dan 30/31 hari dengan demikian, posisi tanggal 14 berada pada posisi tengah yang diapit 14/15 hari sebelum dan 15/16 hari sesudahnya.

c. Tanggal 14 akan selalu berada pada posisi mendekati kebenaran, karena keseimbangan jumlah hari sebelum dan sesudahnya dalam sebulan.

d. Nilai-nilai tradisi yang lekat dengan tanggal 14 adalah perhitungan hari ke-14 dengan posisi bulan situru' yang berarti mufakat bulan malam ke-14 adalah purnama.

e. Angka 14 disimbolkan dengan 14 Distrik Swapraja di Mamuju.

2. Bulan Juli

a. Bulan Juli adalah bulan berada pada posisi urutan 7 dari 12 bulan setahun. Nilai tradisi angka 7 bagi Masyarakat Mamuju dipandang amat sakral penuh makna. Demikian letaknya angka 7 dengan masyarakat Mamuju di bawah ini terinventarisir dengan angka 7 sebagai berikut :

1.) Ada' Gala'gar Pitu (7 Pemangku Adat).

2.) Pitu Ba'bana Binanga (7 Kerajaan di pesisir).

3.) Pitu Ulunna Salu' (7 Kerajaan di Hulu Sungai).

4.) Penduang Pitu (14 sebagai kelipatan 2 dari 7).

5.) Nene Pitullapis (Nenek tujuh turunan).

6.) Ampo Pitullapis (Cucu tujuh turunan).

7.) Langi' Pitussusung (Langit tujuh susun).

8.) Tanpo Pitullapis (Tanah tujuh lapis).

9.) Tanete Pituttodong (Gunung tujuh bersusun).

10.) Tobo Lengkong Pitu (Keris berlekuk tujuh).

11.) Nambo Pitundappa (Kedalaman tujuh depaan).

12.) Pitu Tokke Pitu Sassa (Tujuh Tokke dan tujuh Cecak).

13.) Anjoro Pitu (Kelapa 7).

14.) Belua' bare pitu (Rambut terbelah tujuh).

15.) Orang Lanta' Pitu (Tangga beranak tujuh).

16.) Mingguling Pempitu Dapurang (Mengelilingi dapur hingga 7 kali).

17.) Pitumbongi, Pitungallo (7 hari 7 malam).

b. Bulan Juli adalah bulan saat diundangkannya UU Nomor 29 Tahun 1959 tentang pembentukan daerah-daerah tingkat II di Sulawesi.

c. Bulan dengan posisi urutan 7 berada pada posisi tengah yang diapit oleh 6 bulan sebelumnya dan 6 bulan sesudahnya termasuk bulan Juli itu sendiri dari 12 bulan dalam setahun.

d. Dengan bulan Juli akan selalu berada pada posisi tengah yang mendekati kebenaran karena keseimbangan jumlah bulan sebelum dan sesudahnya dalam setahun.

e. Bulan Juli adalah bulan yang berada pada posisi urutan ke-7 dari 12 bulan dalam setahun.

3. Tahun 1540

a. Tahun 1540 adalah tahun terbentuknya kerajaan Mamuju dari hasil perpaduan dari tiga buah kerajaan di Rante Lisuang Ada' Kurungan Bassi, yakni Kurri-Kurri, Langgamonar dan Managgallangoleh Pue Tunileo.

b. Tahun 1540 didasarkan atas pemikiran dan fakta sejarah bahwa pada tahun tersebut, tercatat dalam sejarah Pelabuhan Kurri-Kurri sebagai pelabuhan Internasional yang telah menjadi persinggahan Portugis mambawa barang komuditas pada Rute Karajaan Siang di Pangkaje'ne sebelum Gowa dan Manado Tua (Sulawesi Utara).

c. Tahun 1540 adalah tahun kesepakatan sebagai kesimpulan hasil seminar Hari Jadi Mamuju yang diselenggarakan oleh Hipermaju dan Persukma Makassar, berkerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Mamuju.


Read more

Bumi Manakarra

Bumi Manakarra atau Mamuju yang merupakan pusat pemerintahan dari Provinsi Sulawesi Barat yang merupakan hasil ikatan dari orang-orang Mandar yang berbeda dengan orang-orang Bugis di Makassar (Sulawesi Selatan).

Bertolak dari semangat "Allamungan Batu di Luyo" yang mengikat Mandar dalam perserikatan "Pitu Ba'bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu" dalam sebuah muktamar yang melahirkan "Sipamandar" (saling memperkuat) untuk bekerja sama dalam membangun Mandar, dari semangat inilah maka sekitar tahun 1960 oleh tokoh masyarakat Mandar yang ada di Makassar yaitu antara lain : H. A. Depu, Abd. Rahman Tamma, Kapten Amir, H. A. Malik, Baharuddin Lopa, SH. dan Abd. Rauf mencetuskan ide pendirian Provinsi Mandar bertempat di rumah Kapten Amir, dan setelah Sulawesi Tenggara memisahkan diri dari Provinsi Induk yang saat itu bernama Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra).

Provinsi Sulawesi Barat menurut sejarah terdiri atas beberapa Kerajaan, dibuktikan dengan adanya artefak luar di bekas afdeling Mandar. Di sana terdapat 14 kerajaan, masing-masing Balanipa, Banggae, Pamboang, Sendana, Tappalang, Mamuju, Binuang, Rante Bulahan, Aralie, Mambi, Tabulahan, Matangga, Bambang dan Tabang.

Orang Mandar adalah pelaut-pelaut yang ulung. Ketika berlayar, mereka akan bersandar pada yang baik dan pantang menyerah. Hal ini dibuktikan dengan adanya ungkapan “Takkalai disombalang dotai lele ruppu dadi na tuali di lolangan“ orang Mandar menjunjung tinggi hal-hal yang baik, benar dan mulia. Rakyat Mandar bercita-cita menjadikan wilayah mereka “Mandar yang masagena na mala bi”, maksudnya wilayah Mandar yang terpandang dan mulia.

Read more

Kisah sukses dari Baras Matra : dulu susah, sekarang Menjadi Bos Sawit

KESULITAN dan cobaan terus mendera para petani plasma, sehingga tidak sedikit pula yang 'menyerah' dan kembali ke daerah asal mereka.

Namun, para Asisten Kebun dari perusahaan inti (PT.Unggul WTL) sendiri, terus menyakinkan para petani plasma agar serius menggarap lahan mereka.

Nurdin yang datang ke desa Baras pada tahun 1986 mengikiti program Transmigrasi dari Pemerintah. Berkat kenaikan harga TBS beberapa tahun ini, Nurdin kini sudah hidup mapan.
''Sekarang saya sudah punya rumah, hotel, dua sepeda motor dan dua mobil. Bisa menyekolahkan anak-anak sampai mendapat gelar sarjana. Berkat kelapa sawit, taraf hidup dan kesejahteraan saya dan keluarga jauh lebih baik,'' jelas Nurdin.

Ia pun menjadi teladan bagi warga desa Baras yang memilihnya sebagai Tokoh Masyarakat Desa Baras.

Ambisinya tidak terhenti, cita-cita Nurdin saat ini adalah menambah lagi lahan kelapa sawit di sekitar tempat tinggalnya di Baras mamuju Utara, . Penghasilan Suparno saat ini, mencapai lebih dari 50 Juta Rupiah per bulan, hanya dari kelapa sawit.

Saat ini, dengan kebun seluas 2 hektare, para petani plasma bisa meraup pendapatan rata-rata sekitar Rp3,5 juta sampai Rp4 juta per bulan.

Angka ini jauh di atas rata-rata upah minimum pekerja di Indonesia yang berkisar di angka Rp1 juta per bulan. Dengan kurs dolar AS saat ini, pendapatan petani plasma per bulan adalah sekitar US$440 per bulan. (*)

Read more